Sintaksatau Langkah-langkah Metode Inquiry. Secara umum proses pembelajaran metode pembelajaran inquiry dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: a. Orientasi. Pada tahap ini guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah:
MenurutSaputra (2016), higher order thinking skills adalah proses berpikir peserta didik dalam level kognitif yang lebih tinggi yang dikembangkan dari berbagai konsep meliputi kemampuan pemecahan masalah, kemampuan berpikir kreatif, berpikir kritis, kemampuan berargumen, dan kemampuan mengambil keputusan.
Prinsipevaluasi meliputi hal-hal sebagai berikut ini kecuali? objektivitas kontinuitas integritas keefektifan subjectif Jawaban: D. keefektifan. Dilansir dari Ensiklopedia, prinsip evaluasi meliputi hal-hal sebagai berikut ini kecuali keefektifan. Baca Juga: Disebut apakah gelombang suara yang memiliki frekuensi >20.000 Hz.
JeanPiaget lebih memfokuskan kajiannya dalam aspek perkembangan kognitif anak dan mengelompokkannya dalam empat fase, yaitu: 1. Tahap Sensori Motor /Sensorimotorik(Usia 0-2 tahun) Tahap ini juga disebut masa discriminating dan labeling. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak reflex, bahasa awal, dan ruang waktu sekarang saja.
PerkembanganFisik dan Kognitif pada Masa Remaja. Kata "remaja" berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity. Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara
Selainitu, adapun beberapa keuntungan dan manfaat dari Object-Oriented Programming (OOP) yang harus kalian ketahui adalah sebagai berikut: OOP memodelkan hal-hal kompleks sebagai struktur sederhana yang dapat direproduksi. Kode OOP dapat digunakan kembali. OOP mencegah duplication atau duplikasi kode. OOP membuat memperbaiki bug lebih mudah.
32KI.
Pendidikan merupakan salah satu akses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Dengan adanya pendidikan, diharapkan kualitas hidup seseorang menjadi lebih baik dan bermakna. Tentu, hal itu tidak bisa diperoleh jika seseorang tidak mampu merefleksikan makna pendidikan di dalam dirinya. Itulah mengapa, seseorang perlu memahami pengetahuan metakognitif. Lantas, apa itu metakognitif? Pengertian Metakognitif Istilah ini dipopulerkan oleh John Flavel, yakni psikolog asal Amerika Serikat. Metakognitif adalah kesadaran seseorang untuk mengontrol ranah kognitif di dalam dirinya. Jika kesadaran ini ada di dalam diri siswa, maka ia tahu apa yang akan diperbuat di kala ia tidak tahu. Adapun ranah kognitif yang bisa dikontrol di dalam diri seseorang adalah merencanakan, mengawasi, serta merefleksikan setiap permasalahan yang dihadapi. Contoh metakognitif dalam pembelajaran adalah ketika siswa bisa merefleksikan hal-hal yang dipelajarinya sehingga terbentuk kesadaran diri yang bernilai bagi guru dan orang lain. Pengertian Metakognitif Menurut Para Ahli Adapun pengertian metakognitif menurut para ahli adalah sebagai berikut. 1. Flavel Kemampuan seseorang untuk menilai kesulitan sebuah masalah, mengamati tingkat pemahaman diri, menggunakan berbagai info untuk tujuan tertentu, serta menilai kemajuan belajar sendiri. Intinya, metakognitif ialah kemampuan seseorang untuk mengetahui bagaimana ia belajar. 2. Matlin Pengetahuan, kesadaran, dan kontrol seseorang terhadap proses kognitif dirinya. 3. McDevitt dan Ormrod Pengetahuan yang manusia miliki tentang proses kognitif diri mereka sendiri dan juga pada proses kognitif tertentu yang digunakan untuk meningkatkan pembelajaran dan daya ingat. 4. Bouffard Pengetahuan eksplisit seseorang terkait cara berpikir dan pada aturan yang dibuat sendiri agar dapat menjalankan proses berpikir saat menerapkan sebuah pengetahuan. 5. Tacassu Bagian perencanaan, pemonitoringan, dan pengevaluasian proses belajar, juga sebuah kesadaran dan penguasaan akan proses belajar. Manfaat Metakognitif Adapun manfaat metakognitif adalah sebagai berikut. Siswa terlatih untuk merefleksikan setiap pengetahuan yang ia bisa menjadi problem solver atas permasalahan di terlatih untuk mandiri, kreatif, dan bekerja lebih mudah untuk mengontrol siswa dalam lebih mudah mengingat materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Fungsi Metakognitif Metakognitif memiliki beberapa fungsi seperti berikut. Sebagai sarana untuk berpikir secara mendalam, sampai diperoleh suatu jawaban atas setiap sarana untuk melatih kemampuan berpikir salah satu upaya dalam membentuk individu pembelajar. Strategi Metakognitif Strategi metakognitif adalah strategi yang digunakan oleh siswa dalam pembelajaran yang didasarkan pada kemampuan metakognitif. Jika siswa sudah terbiasa menggunakan kemampuan tersebut, maka orientasi berpikirnya sudah pada level HOTS high order thinking skill. Contoh penerapan strategi metakognitif dalam pembelajaran Fisika. Anggi diminta oleh Bapak/Ibu guru untuk mengerjakan soal Fisika tentang Dinamika Gerak Lurus. Setelah diberi soal, ternyata banyak yang tidak bisa dikerjakan Anggi. Kemudian, ia berusaha merefleksikan hal-hal yang membuatnya bingung dalam mengerjakan soal. Berdasarkan proses refleksi tersebut, Anggi menemukan jawabannya, yaitu ia kurang memahami konsep dasar Dinamika Gerak Lurus. Lalu, ia mencoba mempelajari kembali materi Dinamika Gerak Lurus serta menghubungkannya dengan penjelasan Bapak/Ibu guru. Akhirnya, Anggi bisa menemukan metode yang tepat dalam mengerjakan setiap soal tentang Dinamika Gerak Lurus. Berdasarkan contoh di atas, terlihat bahwa Anggi memiliki kemampuan metakognitif yang baik. Penerapan Metakognitif dalam Pembelajaran Pembelajaran identik dengan proses berpikir. Dalam pembelajaran, setiap siswa dituntut untuk selalu berpikir terkait materi yang sedang dipelajari, baik bagaimana hakikat materi tersebut sampai penerapannya dalam kehidupan. Oleh sebab itu, dibutuhkanlah metakognitif dalam pembelajaran. Hal ini sudah dirumuskan oleh Lorin Anderson, yaitu seorang penulis asal Amerika Serikat. Metakognitif menurut Anderson dibagi menjadi lima komponen, yaitu sebagai berikut. 1. Persiapan dan rencana pembelajaran Komponen ini berisi rumusan tujuan pembelajaran yang tertulis di dalam RPP. Artinya, metakognitif dalam RPP harus memuat tujuan pembelajaran yang jelas dan sistematis, sehingga bisa mempermudah siswa dalam mempersiapkan proses belajarnya. Dengan demikian, tujuan pembelajaran akan tercapai. 2. Pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran Setiap siswa tentu bisa mengukur kemampuan dirinya sendiri dalam proses pembelajaran. Setelah memutuskan proses pembelajaran mana yang akan dipilih, mereka tentu bisa menentukan strategi yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, guru hanya berperan sebagai pembimbing. 3. Penggunaan strategi dan pemantauan Dalam menerapkan strateginya, siswa harus bisa memantau dan mengendalikan cara berpikirnya agar tujuan pembelajaran bisa tercapai. Dalam hal ini, guru berperan mengarahkan siswa untuk memilih strategi pembelajaran yang sesuai dan terbaik dalam pemecahan masalah. 4. Pengaturan berbagai strategi pembelajaran Jika siswa memiliki kemampuan kognitif yang baik, tentu ia bisa mengolaborasikan berbagai strategi yang telah dipilihnya. Selain itu, siswa juga harus mampu menempatkan strategi mana yang masih atau tidak bisa digunakan. 5. Evaluasi atas strategi yang digunakan dalam pembelajaran Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui strategi mana yang sesuai dengan pemecahan masalah tertentu. Dengan adanya evaluasi ini, siswa sudah dilatih untuk memberdayakan pemikirannya di lingkup pendidikan. Interaksi antara lima komponen di atas akan saling berkaitan satu sama lain, sehingga akan menghasilkan kemampuan metakognitif yang baik bagi siswa. Cara Mengukur Kemampuan Metakognitif Kemampuan metakognitif bisa diukur melalui beberapa indikator. Adapun indikator metakognitif tersebut adalah sebagai berikut. 1. Indikator perencanaan Indikator perencanaan meliputi siswa mampu menunjukkan informasi dan petunjuk awal yang berkaitan dengan pemecahan mampu menyusun hal-hal yang akan dilakukannya. siswa mampu mengalokasikan waktu. 2. Indikator pemantauan Indikator pemantauan meliputi siswa mampu menjaga setiap proses agar berjalan sesuai mampu menganalisis setiap informasi mampu menentukan langkah yang akan diambil bersegera untuk membuat keputusan di saat menemui kendala. 3. Indikator penilaian Indikator penilaian meliputi siswa mampu memastikan bahwa proses yang dikerjakannya berjalan dengan baik sesuai mampu mempertimbangkan strategi yang dipilihnya dalam pemecahan masalah yang mampu mempertimbangkan strategi lain yang mungkin bisa dikolaborasikan dengan strategi yang sedang dijalankan. Dari pembahasan di atas, tentu Bapak/Ibu bisa menyimpulkan bahwa metakognitif merupakan level pencapaian tertinggi seorang pembelajar. Bimbingan serta nasihat Bapak/Ibu di sekolah merupakan salah satu cara mengarahkan peserta didik untuk mencapai level tersebut. Itulah pembahasan Quipper Blog kali ini. Semoga bisa bermanfaat buat Bapak/Ibu. Jangan lupa untuk tetap stay tune bersama Quipper Blog. Salam Quipper!
Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free PELATIHAN GURU PEMBIMBING KHUSUS ORIENTASI DAN MOBILITAS SUGINI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA DAFTAR ISI PELATIHAN GURU PEMBIMBING KHUSUS ................................................................ 1 BAB I ............................................................................................................................... 3 PENDAHULUAN ............................................................................................................... 3 BAB II .............................................................................................................................. 5 ORIENTASI ....................................................................................................................... 5 BAB III ............................................................................................................................18 MOBILITAS .....................................................................................................................18 BAB IV ............................................................................................................................33 PENUTUP ........................................................................................................................33 BAB I PENDAHULUAN Semua anak memiliki hak yang sama dalam memperoleh akses penddikian tanpa kecuali. Pemerintah telah menyediakan layanan pendidikan bagi peserta didik dalam berbagai alternative bentuk layanan, baik di sekolah Luar Biasa maupun Sekolah Reguler atau sekolah Inklusi. Bagi peserta didik berkebutuhan khusus memiliki hak untuk memilih layanan pendidikan yang telah disediakan oleh pemerintah. Di Sekolah Luar Biasa, sebagai contoh peserta didik tunanetra dapat terakomodasi kebutuhan khususnya seperti menulis Braille, akses teknologi asistif, cara mereka mengakses lingkungan melalui Pembelajaran Orientasi dan Mobilitas oleh guru-guru professional dalam kurikulum khusus. Sedangkan di Sekolah Reguler atau sekolah Inklusi peserta didik selain didampingi oleh guru-guru mata pelajaran, mereka didampingi pula oleh Guru Pembimbing Khusus GPK. Guru Pembimbing Khusus harus memiliki kesiapan dalam memberikan layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah. Pengetahuan keberagaman peserta didik dan karakteristik khusus mereka perlu diperdalam sebagai dasar pemberian layanan pendidikan. Guru Pembimbing Khusus memiliki kemungkinan yang besar menemukan lebih dari satu jenis kebutuhan khusus pada peserta didiknya di sekolah, untuk itu GPK harus siap dalam berbagai kemungkinan, baik kognitif, perilaku maupun social interaksi anak berkebutuhan khusus yang akan dihadapi. GPK juga perlu menguasai keterampilan Pengembangan Khusus sebagai kompensasi dari kondisi/hambatan yang dialami peserta didik, sebagai contoh Orientasi dan Mobilitas Sosial Komunikasi bagi peserta didik dengan hambatan penglihatan. Dalam rangka peningkatan pemahaman dan keterampilan Guru Pembimbing Khusus dalam penguasaan keterampilan materi-materi Pengembangan Khusus, Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Pelatihan Guru Pembimbing Khusus. Salah satu materi Pengembangan Khusus tersebut adalah Orientasi dan Mobilitas Sosial dan Komunikasi bagi peserta didik berkebutuhan khusus netra. Orientasi dan Mobilitas Sosial dan Komunikasi bagi peserta didik berkebutuhan khusus netra merupakan materi keterampilan yang berisi bagaimana tunanetra mengakses lingkungan secara mandiri, dapat berkomunikasi dan mengambil peran secara social dalam kehidupan bermasyarakat sesuai tahapan usia. Setelah membaca modul ini, peserta pelatihan diharapkan 1. Dapat menjelaskan pengertian orientasi dan mobilitas dan ruang lingkupnya dengan benar 2. Dapat melakukan praktek menerapkan Teknik oreintasi dan mobilitas secara simulasi 3. Dapat membuat perencanaan pembelajaran dalam menerapkan materi orientasi dan Mobilitas bagi peserta didik tunanetra sesuai jenjang yang diampunya 1. Pengertian Orientasi dan ruang lingkupnya a. Body Image/Gambaran Tubuh b. Pengembangan Sensoris c. Kesadaran Spasial dan Lingkungan d. Eksplorasi Lingkungan dan Bermain e. Gerak f. Keterampilan Sosial dan Komunikasi 2. Mobilitas a. Pengertian Mobilitas dan Orientasi dan Mobilitas b. Pentingnya Orientasi dan Mobilitas c. Teknik-Teknik dalam Orientasi dan Mobilitas BAB II ORIENTASI 1. Peserta Pelatihan dapat menjelaskan pengertian Orientasi dan ruang lingkupnya 2. Peserta Pelatihan dapat menemukenali permasalahan peserta didik tunanetra dalam mengakses lingkungan 3. Peserta Pelatihan dapat merancang pembelajaran Orientasi bagi peserta didik tunanetra sesuai jenjang pendidikan yang diampunya 1. Pengertian dan ruang lingkup Orientasi merupakan proses berfikir dan mengolah informasi yang mengandung tiga pertanyaan pokok/prinsip,yaitu Where am I di mana saya? Where is my objective di mana tujuan saya? How do I get there bagaimana saya bisa sampai ke tujuan tersebut?. Jadi dengan demikian, sebenarnya orientasi itu mencari informasi untuk menjawab pertanyaan 1 di mana posisinya dalam ruang, 2 di mana tujuan yang dikehendaki oleh seorang tunanetra dalam ruang tersebut, dan 3 susunan langkah/jalan yang tepat dari posisi sekarang sampai ke tujuan yang dikehendaki. Proses kognitif merupakan suatu lingkaran dari lima proses yang dilakukan oleh seorang tunanetra ketika dia melakukan kegiatan orientasi. Dalam hal melakukan orientasi seorang tunanetra harus memiliki kemampuan fungsional terhadap komponen khusus orientasi seperti a. Landmark/ciri medan Setiap benda, suara, bau, suhu, atau petunjuk taktual yang mudah dikenali, menetap, dan telah diketahui sebelumnya, serta memiliki lokasi yang permanen dalam lingkungan b. Clue Setiap rangsangan suara, bau, perabaan, kinestetis, atau visual yang mempengaruhi penginderaan yang dapat segera memberikan informasi kepada siswa tentang informasi penting untuk menentukan posisi dirinya atau sebagai garis pengarah c. Indoor Numbering system Definisi Pola dan susunan nomor-nomor ruangan di dalam suatu bangunan d. Outdoor Numbering System sistem penomoran luar ruangan Pemahaman tentang sistem penomoran luar ruangan di satu kota bagi seorang tunanetra dapat memberikan dasar untuk mengembangkan metoda yang sistematik dalam mengorientasikan dirinya dan menentukan tujuan khusus, seperti nomor rumah atau bangunan, pada jalan tertentu. Pengetahuan seperti ini dapat memungkinkan seorang siswa tunanetra menempatkan dirinya pada alamat tertentu di suatu jalan. Dia dapat mempergunakan teknik bertanya untuk menentukan alamat pasti. Untuk mengajarkan sistem penomoran luar ruangan di suatu kota, ahli O&M harus tahu dan paham dulu tentang sistem penomoran tersebut. Informasi tentang sistem penomoran luar ruangan yang dipergunakan di kota yang berbeda biasanya tersedia di salah satu atau beberapa sumber berikut kantor polisi, perusahaan taksi, sistem transportasi umum, dinas kebakaran, balaikota, pusat informasi turis. e. Measurment Tindakan atau proses mengukur. Mengukur merupakan suatu keterampilan untuk menentukan suatu dimensi secara pasti atau kira-kira dari suatu benda atau ruang dengan mempergunakan alat. f. Compass Directions arah-arah mata angin Arah-arah mata angin adalah arah-arah tertentu yang ditentukan oleh medan magnetik dari bumi. Empat arah pokok ditentukan oleh titik-titik yang pasti, dengan interval 90 derajat setiap sudutnya. Keempat arah tersebut adalah utara, timur, selatan, dan barat g. Self Familiarization pengakraban diri Rincian prosedur proses pengakraban diri dikemukakan ketika siswa akan memasuki suatu bangunan sesuai dengan rencana kunjungan yang dibuat 2. Body Image Anak Tuna Netra perlu dikenalkan dengan lingkungan beserta aktivitas didalamnya agar anak mengalaminya secara langsung. Hal ini karena, tidak seperti anak-anak awas, mereka tidak akan memiliki akses pada pemahaman yang sebagian besar diperoleh melalui informasi visual, dan umumnya diperoleh secara kebetulan, tentang bagaimana lingkungan mereka diatur. Pemahaman tersebutlah yang menjadi dasar seseorang melakukan gerakan. a. Kesadaran tubuh adalah memahami nama anggota tubuh dan bagaimana menempatkannya b. Konsep tubuh/image tubuh adalah bagaimana bagian tubuh bergerak dan berfungsi dan hubungannya satu sama lain c. Body planes adalah bagaimana tubuh dibagi kedalam bagian atas bawah, kiri kanan, depan belakang dsb d. Laterality seorang anak harus belajar bagaimana menggerakkan anggota tubuhnya dalam berbagai sisi e. Midline mengenali bahwa terdapat garis tengah/bagian tengah yang memisahkan apa yang ada disebelah kiri dan apa yang ada di sebelah kanan f. Proprioception Bagaimana tubuh menggunakan rangka tubuh untuk memberikan informasi tentang dimana bagian tubuh. Contoh aku berdiri satu kaki, aku menjewer telinga g. Aktivitas yang mungkin dapat membantu peningkatan keterampilan misalnya kegiatan gym, kegiatan di tikar/lantai, gerak dan lagu, berpakaian, dan mainan yang bergerak dan anggota tubuh 3. Pengembangan Sensoris Sensory Development Mendorong penggunaan indera yang ada untuk membantu anak/siswa tentang apa yang mereka pelajari dan merasakan apa yang ada di sekitar lingkungan. Bermain merupakan elemen penting, biarkan siswa mengeksplorasi, menyentuh, merasakan dan membau, misalnya bermain dengan air, tanah, pasir. Pengembangan sensoris meliputi a. Keterampilan mendengarkan 1 Kesadaran Bunyi. Siswa tunanetra memiliki kesadaran akan bunyi tetapi bukan berarti mereka benar-benar mendengarkan atau memahami apa yang mereka dengar. 2 Identifikasi dan Lokalisasi Bunyi. Siswa perlu memahami, mengidentifikasi dan melokalisasikan bunyi. Hal ini penting untuk memberikan siswa pengalaman bunyi dan memaknai bunyi, mendeskripsikan bunyi dan jika memungkinkan dapat mengeksplorasi sumber bunyi 3 Keterampilan diskriminasi bunyi, Siswa tunanetra seringkali mendengar banyak bunyi dan mereka memerlukan kemampuan bagaimana membedakan antara bunyi utama dan bunyi latar yang relevan dengan aktivitas mereka. Hal ini disebut dengan “menyeleksi bunyi” dan menggunakan suara yang hanya diperlukan 4 Penggunaan bunyi untuk kepentingan Orientasi dan Mobilitas. Dari usia bayi sampai menjadi dewasa, anak akan menggunakan banyak bunyi untuk membantu bergerak. Misalnya bayi yang berbaring akan dapat mengetahui ada seseorang yang mendekat dari suara langkah kaki mereka. Sama halnya dengan kanak-kanak akan dapat mengidentifikasi suara mobil yang berada di belakang mereka sehingga dapat mengantisipasi, dari suaranya. Siswa tunanetra dapat mengenali posisi dan petunjuk menuju suatu tempat dengan menggunakan audible landmark suara ramai, peluit di lapangan bola. Berikut merupakan contoh permainan dan aktivitas yang dapat membantu siswa belajar tentang dunia sekitar dan mendorong mereka untuk aktif, Auditory keterampilan mendengarkan mencari suara, menentukan arah suara, mendengar music dalam berbagai suara yang berbeda, buku bersuara, lagu-lagu dan sebagainya. b. Keterampilan Perabaan Mainan tactual dan permainan tactual dapat digunakan seperti berbagai bentuk bangun datar/ruang, warna kontras, mencolok. Play dough sebagai latihan motorik halus. Tidak semua siswa nyaman mengeksplorasi lingkungan dengan tangan mereka. Ada beberapa anak yang tidak tahan dengan stimulus tactual. Kemungkinan anak tidak tahan menyentuh benda berbulu, lembab, benyek, bergerigi, sehingga perlu didampingi agar anak merasa aman. Perlu disiapkan perasaan anak dan respon perilaku terhadap latihan eksplorasi tersebut. Berbagai macam keterampilan sensory tersebut dapat dikombinasikan dan digunakan untuk mendorong penggunaan sisa penglihatan dalam permainan hide and seek terhadap objek tertentu Gambar 1. Melatih keterampilan tactual Sumber; diperoleh dalam buku “simple of steps” . 1 Touch Kaitannya dengan O&M, stimulus tactual melalui eksplorasi dengan tangan, wajah, kaki, telapak tangan. 2 Mengeksplorasi perbedaan bentuk, ukuran, tekstur, temperature perlu dibedakan dan diberikan fakta terkait dimana perbedaannya. 3 Seluruh anggota tubuh dapat digunakan untuk melakukan eksplorasi kemampuan “tactile discrimination” 4 Informasi tactual kemungkinan bisa didapat dari benda benda kecil yang digunakan sehari-hari seperti sikat gigi, mainan, puzzle, daun, busa dll. 5 Perlu dilatih untuk bertanya agar muncul keingintahuan dan minat mereka terhadap benda2 di lingkungan c. Keterampilan Membau/mencium bau/mengenali bau 1 Smell Kesadaran pembauan dapat dipertajam dengan berbagai jenis bau makanan, rempah2/empon2, bau pedas atau wewangian. 2 Mengenali bau toko roti, obat, bunga yang memiliki perbedaan bau. Dan aroma dari toko tersebut memberikan informasi yang berguna bagi keterampilan O&M d. Keterampilan Optimalisasi Indera Penglihatan 1 Penggunaan sisa penglihatan yang masih ada dapat difungsikan melalui computer/tablet dengan ukuran huruf diperbesar 2 Serta mainan yang berwarna mencolok, kontras akan menarik minat penglihatan Sensory games dapat digunakan untuk latihan seperti mendengar, membau dan meraba. Auditory/listening games seperti mendengar berbagai lagu, sajak, dan dongeng yang mensyaratkan penggunaan memori auditori. Mainan berbunyi juga merupakan sumber belajar yang bagus, misalnya bola dengan klintingan, mobil-mobilan, robot yang bergerak, sehingga pengalaman mencari arah bunyi bergerak diperoleh anak. Memainkan alat music juga dapat membangun keterampilan auditory. Mainan tactual dan permainan tactual dapat digunakan seperti berbagai bentuk bangun datar/ruang dikombinasi dengan warna kontras atau mencolok. Play dough sebagai latihan motoric halus. Tidak semua siswa nyaman mengeksplorasi lingkungan dengan tangan mereka. Ada beberapa anak yang tidak tahan dengan stimulus tactual. Kemungkinan anak tidak tahan menyentuh benda berbulu, lembab, benyek, bergerigi, sehingga perlu didampingi agar anak merasa aman. Perlu disiapkan perasaan anak dan respon perilaku terhadap Latihan eksplorasi tersebut. Berbagai macam keterampilan sensory tersebut dapat dikombinasikan dan digunakan untuk mendorong penggunaan sisa penglihatan dalam permainan mencari benda-benda dan jika pada kelas anak-anak dengan permainan hide and seek/petak umpet terhadap objek tertentu. Latihan sensory tersebut diatas berlaku untuk anak-anak, perlu ditambahkan motivasi untuk mengingat keterampilan-keterampilan yang sudah dilatihkan dengan cara mengembangkan apa yang sudah dapat dilakukan anak, minat mereka, memberikan waktu untuk mereaksi, memecah kegiatan menjadi langkah-langkah kecil dan membiarkan anak menjadi "pengemudinya". Selama kegiatan, pujian dan penguatan verbal dapat digunakan sebagai konfirmasi bahwa yang dilakukan oleh anak sudah benar. Bagi anak yang sudah menuju remaja dan lebih besar permainan tersebut bisa dikombinasikan dengan kegiatan menjelajah di tempat yang belum familier, fasilitas public, dengan memanfaatkan prior knowledge di tahapan sebelumnya untuk mengenali ciri medan. Misalnya bau bakso di stasiun kereta berasosiasi pada posisi diri pada stasiun pintu timur, dan lain sebagainya. 4. Kesadaran Spasial dan Lingkungan spatial and environmental awareness Seperti bahasan sebelumnya terkait Orientasi pada halaman 1, Spatial Awareness berkaitan dengan pertanyaan dimana saya? Apa yang ada disekitar saya? Dimana benda benda tersebut hubungannya dengan posisi saya. Sedangkan Environmental Awareness adalah memahami lingkungan secara cepat dengan menggunakan cues, clues, features and landmarks sebagai informasi. Pengetahuan tentang fitur lingkungan, seperti ukuran, bentuk, warna, dan tekstur objek sehari-hari dan keteraturan spasial di lingkungan yang dibentuk. Lingkungan diatur dalam pola yang dapat diprediksi secara umum. Misalnya, rumah dibagi menjadi beberapa ruangan, dan sebuah ruangan biasanya memiliki empat dinding, satu langit-langit dan satu lantai. Di luar rumah adalah taman, jalan, pertokoan, kota dan lain-lain yang memiliki pola tetap. Anak Tuna Netra perlu dikenalkan dengan lingkungan beserta aktivitas didalamnya agar anak mengalaminya secara langsung. Hal ini karena, tidak seperti anak-anak awas, mereka tidak akan memiliki akses pada pemahaman yang sebagian besar diperoleh melalui informasi visual, yang diperoleh secara kebetulan, tentang bagaimana lingkungan mereka diatur. Pemahaman tersebutlah yang menjadi dasar seseorang melakukan gerakan. a. Objek dan fungsinya sebagai property Agar anak dapat mengembangkan pemahaman yang jelas tentang lingkungannya, penting bagi tunanetra untuk dapat mengidentifikasi tujuan, sifat, dan fungsi suatu objek. Ketika objek/ruangan/tempat diberi nama, atau label, sebaiknya lingkungan sekitar konsisten dan menggunakan istilah yang sama. Anak juga perlu memahami bahwa objek tidak selalu ada di lingkungannya. Objek permanen seperti misalnya Stasiun, halte bus, sedangkan mobil yang diparkir dapat bergerak/berpindah sewaktu-waktu, barang dapat dipindahkan misalnya kursi dan sebagainya. Deteksi perubahan permukaan misalnya tekstur, kasar atau halus dan perubahan level misalnya tangga atau trotoar dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokasi / posisi seseorang. Aktivitas yang berlangsung di daerah tersebut atau didukung oleh lingkungan tertentu. Variasi suhu juga dapat digunakan untuk orientasi, bahkan perubahan kecil pun dapat digunakan untuk menentukan posisi, mis. dekat pintu yang terbuka. Temukan lingkungan yang berbeda bersama-sama misalnya berjalan-jalan di taman, memanjat bingkai panjat atau berayun di taman bermain. Alami perubahan permukaan dan tekstur, perubahan arah, dan biarkan anak bersenang-senang. Gambar 2. Eksplorasi Lingkungan Sumber; diperoleh dalam buku “simple of steps” . b. Eksplorasi dan Rasa ingin tahu Menstimulasi rasa ingin tahu pada anak membantu mereka memahami lingkungannya. Ketika seorang anak merasa tertarik, aman dan terjamin, dia akan ingin menjelajah. Guru dan orang tua sebaiknya megupayakan untuk mendorong keingintahuan anak terhadap lingkungan c. Keterampilan Pra-Tongkat Keterampilan pra-tongkat bila dilakukan dan diterapkan dengan benar memberikan perlindungan maksimum individu tanpa menggunakan alat bantu mobilitas. Diantaranya 1 Squaring off Menempatkan punggung seseorang pada benda padat yang datar misalnya. Dinding untuk berjalan dalam garis lurus ke lokasi yang diketahui. 2 2 Trilling. Penggunaan satu tangan untuk mengikuti permukaan dengan ringan misalnya dinding untuk berpindah dari satu titik ke titik lainnya. 3 Lower Hand Perlindungan Tubuh Bagian Bawah dengan menggunakan lengan yang diposisikan secara diagonal di depan tubuh untuk melindungi area pinggang, pinggul, dan kaki bagian atas. 4 Upper Hand/ Upper body protection Perlindungan tubuh bagian atas dengan menggunakan lengan yang dipegang secara diagonal di depan tubuh dan wajah untuk melindungi kepala. 5 Teknik Penghalang Menggunakan kedua lengan bersama-sama, dengan tangan tumpang tindih, untuk membentuk 'lingkaran' pelindung di depan tubuh 6 Taking-a-Line Merupakan penggunaan kombinasi trailing dan pelindung tubuh bagian atas untuk melintasi jeda di permukaan yang diikuti. Guru dan orang tua perlu membangu kepercayaan pada potensi dan kemampuan mereka, jangan selalu membantu menganggap siswa belum mampu, menaruh rasa khawatir yang berlebihan. Lakukan hal-hal selangkah demi selangkah, biarkan anak mencobanya sendiri. d. Bermain untuk stimulasi dan eksplorasi lingkungan Bagi anak pada usia 5-8 tahun permainan-permainan kelompok akan membantu mereka terampil secara social dan perasaan yang menggembirakan. Anak dapat diajak Permainan verbal yang berhubungan dengan benda konkret misalnya. Simon says, petak umpet untuk mendorong siswa agar bergerak, penggunaan rintangan dan permainan ular naga akan membantu anak untuk memahami konsep-konsep seperti di atas / di bawah / di depan / di belakang, dll. Untuk menstimulasi anak-anak yang malu untuk bermain dan bergerak perlu dipertimbangkan strategi khusus agar siswa tertarik melibatkan diri dengan permainan. Langkah awal yang baik adalah dari area yang tenang dan bebas keramaian. Tarik perhatian anak dengan suara, bau, gerakan, atau getaran yang merangsang dan menarik perhatian mereka. Ketika mencoba memotivasi anak letakkan benda-benda yang dapat di jangkau, sehingga mereka dapat merasakannya dengan bagian manapun dari tubuhnya e. Gerak Aktivitas Luar Ruangan perlu dilatihkan bagi anak sedini mungkin. mengajak anak berjalan-jalan dan menceritakan kisah-kisah menyenangkan tentang perjalanan spesifik perlu dilakukan agar anak senang bergerak. Berikan pengalaman anak bermain di semua kondisi cuaca. Gambar 3. Bermain Sumber; diperoleh dalam buku “simple of steps” . f. Keterampilan Komunikasi Berikan instruksi yang jelas kepada anak Anda dan gunakan bahasa yang konsisten. Dorong anak agar cukup percaya diri untuk meminta mengerjakan tugas secara mandiri. Mainkan game untuk mengajarkan keterampilan mengambil giliran. Keterampilan dan sikap ini diperlukan untuk bermain secara efektif dengan teman sebaya. Carilah kesempatan untuk bertemu dengan anak-anak tunanetra lainnya dan keluarga mereka. Hampir semua keterampilan sosial yang digunakan oleh anak-anak dan orang dewasa yang dapat melihat telah dipelajari dengan mengamati secara visual lingkungan dan orang-orang di dalamnya, dan berperilaku dengan cara yang sesuai secara sosial berdasarkan informasi tersebut. Keterampilan interaksi sosial tidak dipelajari dengan santai dan kebetulan oleh anak-anak tunanetra dan oleh karena itu harus diajarkan dengan hati-hati, sadar, dan berurutan. Gambar 4. Melatih keterampilan Sosial dan Komunikas Sumber; diperoleh dalam buku “simple of steps” . g. Keterampilan Sosial Untuk meningkatkan keterampilan social beberapa cara berikut dapat dilakukan guru atau orang tua 1 Permudah anak untuk meminta bantuan saat mereka membutuhkan, buat suasana interaksi nyaman sehingga anak merasa terbuka mengutarakan kesulitan yang mereka alami. 2 Memungkinkan anak untuk berpartisipasi dalam acara atau kunjungan dan melalui pertemuan-pertemuan dengan orang lain sehingga memperoleh pengalaman dalam menghadapi situasi sosial baru. 3 Tingkatkan kepercayaan diri dan harapan untuk anak dan orang dewasa yang terlibat dalam hidupnya. 4 Beri kesempatan anak untuk berpartisipasi secara mandiri dalam semua pengalaman sekolah sambil mengembangkan potensi mereka dalam keterampilan sosial, harga diri dan kepercayaan diri. 5 Kembangkan lebih lanjut kemandirian mereka dengan memberi kesempatan mereka memilih kelompok sebaya dan berpartisipasi dalam kegiatan yang mereka nikmati dan memberi mereka kesempatan untuk belajar dari satu sama lain h. Keterampilan hidup dan Aktivitas Hidup Sehari-hari Jika seorang anak mandiri maka dapat diterima secara sosial dalam hidup. Keberhasilan dalam perawatan diri dan tugas sehari-hari meningkatkan kepercayaan diri seorang anak. Berikan anak kesempatan untuk mempelajari keterampilan dasar perawatan diri seperti berpakaian, makan, kebersihan diri, dll. Doronglah mereka agar mengikuti berbagai aktivitas rumah tangga seperti memanggang, memasak, bersih-bersih, dll. Beri anak kesempatan untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi sendiri. Ingatlah persamaan hak dan tanggung jawab dan tawarkan kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dalam kegiatan di dalam dan di luar rumah. Tak ketinggalan pengalaman menyendiri di lingkungan yang aman. Hal serupa dapat dikembangkan oleh guru di sekolah. Memberi kesempatan kepada anak dalam aktivitas kelas misalnya mengoperasikan computer di sekolah, menggunakan media pembelajaran secara mandiri tanpa kekahawatiran bahwa anak tidak mampu, anak menjadi celaka tersengat listrik atau akan membuat asset sekolah menjadi rusak dan semacamnya. Dengan memberikan kepercayaan kepada kemampuan anak, maka keterampilan hidup mandiri mereka akan meningkat. Lakukan hal berikut dengan penglihatan ditutup 1. Mengenali ciri medan sebuah tempat/ruangan, identifikasikan ciri-ciri yang dapat dipakai sebagai petunjuk lokasi 2. Menentukan posisi diri dan lingkungan, identifikasikan posisi diri dalam sebuah tempat/ruang, tentukan posisi tempat atau ruang tersebut diantara lingkungan yang lain. Orientasi merupakan proses berfikir dan mengolah informasi yang mengandung tiga pertanyaan pokok/prinsip,yaitu Where am I di mana saya? Where is my objective di mana tujuan saya? How do I get there bagaimana saya bisa sampai ke tujuan tersebut?. Jadi dengan demikian, sebenarnya orientasi itu mencari informasi untuk menjawab pertanyaan 1 di mana posisinya dalam ruang, 2 di mana tujuan yang dikehendaki oleh seorang tunanetra dalam ruang tersebut, dan 3 susunan langkah/jalan yang tepat dari posisi sekarang sampai ke tujuan yang dikehendaki. Kerjakan soal berikut dengan memberikan tanda silang pada salah satu pilihan jawaban 1. Siswa-siswa tunanetra baru, perlu dikenalkan lingkungan sekolah dan kemudian dilatih mebiasakan diri memiliki proses mengolah informasi dimana saya, dimana tujuan saya dan bagaimana sampai ke tujuan tersebut. Hal tersebut merupakan proses berfikir. a. Orientasi b. Mobilitas c. Orientasi dan Mobilitas d. Pengenalan Konsep e. Pengenalan lingkungan 2. Penyandang tunanetra dilatih untuk selalu bertanya pada dirinya sendiri terkait dimana saya, dimana tujuan saya dan bagaimana sampai ke tujuan tersebut, sebelum bergerak untuk berjalan atau pepergian. Hal tersebut dimaksudkan agar.. a. dalam berpindah tempat dan bergerak lebih efektif dengan menetapkan posisi diri dan hubungannya dengan objek yang ada di lingkungan. b. dalam berpindah tempat dan bergerak fungsi indra terlatih dan terstimulasi c. dalam berpindah tempat dan bergerak citra diri dan body image dapat membantu mengenali lingkungan d. dalam berpindah tempat dan bergerak kesiapan mental dan fisik untuk bertanya sehingga sampai ke tujuan e. dalam berpindah tempat dan bergerak memerlukan kemampuan bertanya 3. Seorang anak tunanetra mengalami kesulitan dalam mempelajari petunjuk atau tanda yang mudah dikenal dan mempunyai tempat yang pasti di lingkungan. Kemampuan orientasi yang harus dikembangkan pada anak tersebut adalah……. a. Direction Taking b. Landmark/mengenali ciri medan c. Clue d. Trailing e. Upper Hand 4. Siswa diajak ke halaman sekolah, siswa diminta mengidentifikasi tempat tersebut, mendiskripsikan cirinya. Apa tujuan dari kegiatan tersebut? a. Pengembangan kemampuan berjalan b. Direction taking c. Keterampilan verbal d. Pengembangan kemampuan pendamping verbal e. Pengembangan mengenali lingkungan dan ciri medan 5. Seorang tunanetra dapat menguasai lingkungan disekitarnya apabila menggunakan 3 pertanyaan prinsip orientasi yang benar, yaitu …. a. Dimana saya?, kapan saya pergi?, mengapa saya pergi? b. Kapan saya harus pergi?, kemana saya harus pergi?, bagaimana saya pergi? c. Dimana saya?, dimana tujuan saya?, dan bagamana saya ke sana? d. Bagaimana saya harus pergi?, kemana saya pergi?, mengapa saya pergi? e. Dengan siapa saya pergi?, bagaimana saya pergi?, dan kemana saya pergi? A. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Setelah menyimak materi, melakukan percobaan laithan serta mengerjakan soal evaluasi, menurut anda apakah materi tersebut dapat diterapkan pada peserta didik tunanetra di sekolah inklusi? Jika ya, bagaimana teknisnya dan jika tidak berikan alasannya mengapa? Jawab ………………………………………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………………… BAB III MOBILITAS 1. Peserta pelatihan dapat menirukan gerakan Teknik orientasi dan Mobilitas 2. Peserta didik dapat mempraktekkan Teknik orientasi dan mobilitas 3. Peserta didik dapat merancang pembelajaran orientasi dan mobilitas bagi peserta didiknya 1. Mobilitas Mobilitas adalah kemampuan, kesiapan, dan mudahnya bergerak dan berpindah tempat. Mobilitas juga berarti kemampuan bergerak dan berpindah dalam suatu lingkungan. Karena mobilitas merupakan gerak dan perpindahan fisik, maka kesiapan fisik sangat menentukan keterampilan tunanetra dalam mobilitas. Apabila kita berbicara masalah pembinaan fisik tunanetra, maka hal ini bukan harus dilakukan oleh guru O&M saja akan tetapi juga harus menjadi tanggung jawab semua pihak yang berhubungan dengan pendidikan bagi tunanetra. Demikian juga terhadap pengembangan daya orientasi anak dalam lingkungannya. Jadi dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa tujuan akhir daripada O&M adalah agar tunanetra dapat memasuki setiap lingkungan, baik yang sudah dikenal maupun belum dikenal, dengan aman, efisien, luwes, dan mandiri dengan menggabungkan kedua keterampilan tersebut. Atau agar anak berkebutuhan khusus tunanetra mampu mengenali lingkungan baik yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal dengan baik, dapat bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, serta untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara efektif dan aman, tanpa memiliki ketergantungan yang besar kepada orang lain. Orientasi dan Mobilitas OM adalah suatu rangkaian pengetahuan dan keterampilan, yang mana untuk mendalaminya memerlukan kemampuan berpikir untuk mengenali segenap informasi yang diterima melalui inderanya. 2. Pentingnya Orientasi dan Mobilitas dalam pendidikan dan rehabilitasi bagi tunanetra Kemampuan mobilitas yang tinggi dalam segala aspek kehidupan merupakan dambaan setiap individu, tidak terkecuali mereka yang menyandang ketunanetraan. Bagi orang awas, kemampuan mobilitas ini telah dipelajari sejak lahir dan berkembang pesat sampai mereka dewasa. Apakah bagi seorang tunanetra juga demikian? Tunanetra adalah seseorang yang karena sesuatu hal tidak dapat menggunakan matanya sebagai saluran utama dalam memperoleh informasi dari lingkungannya. Adanya ketunanetraan pada seseorang, secara otomatis ia akan mengalami keterbatasan. Keterbatasan itu adalah dalam hal 1 memperolah informasi dan pengalaman baru, 2 dalam interaksi dengan lingkungan, dan 3 dalam bergerak serta berpindah tempat. Oleh karena itu, dalam perkembangannya seorang anak tunanetra mengalami hambatan atau sedikit terbelakang mobilitasnya bila dibandingkan dengan anak awas. Untuk dapat bersaing dan seimbang dengan anak awas, maka anak tunanetra perlu belajar dan dilatih secara khusus dalam hal bergerak dan berpindah tempat dengan benar, baik, efektif, dan aman. Oleh karena itu latihan orientasi dan mobilitas O&M merupakan program yang integral dalam pendidikan dan rehabilitasi bagi tunanetra, sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan dan rehabilitasi tanpa program O&M di dalamnya maka program tersebut bukanlah program pendidikan dan latihan bagi tunanetra. 3. Teknik-teknik dalam Orientasi Mobilitas, Sosial dan Komunikasi OMSK Teknik-teknik dalam Orientasi Mobilitas, Sosial dan Komunikasi OMSK dikenal ada dua cara, yaitu teknik yang menggunakan alat bantu manusia disebut “pendamping awas” dan teknik tanpa menggunakan alat bantu disebut “perjalanan mandiri Independent Travel”. a. Teknik Pendamping Awas 1 Membuat kontak Untuk membuat kontak dengan seorang tunanetra mengajak siswa, pen- damping menyentuhkan punggung tangannya kepada siswa atau siswa men- gajak kepada pendamping baik dengan sentuhan tangan atau lisan. 2 Memegang pendamping awas Siswa memegang dengan “erat” lengan pendamping di atas sikut. Ibu jari siswa berada di sebelah luar lengan pendamping dan jari-jari yang lain di se- belah dalam. Lengan siswa lentur pada sikut, sedangkan lengan atas siswa tetap rapat pada badannya. Gambar 5. Teknik Memegang Pendamping Awas Teknik Memegang Pendamping Awas 3 Posisi dengan Pendamping Awas Siswa harus berposisi setengah langkah di belakang pendamping dan berada di samping pendamping, dengan bahu lurus sejajar di belakang bahu pen- damping. Gambar 7. Teknik Memegang Pendamping Awas untuk Anak Kecil 4 Melewati jalan sempit Pendamping menarik lengan yang dipegang siswa ke belakang dan ke sebe- lah dalam. a Siswa memberi respon dengan meluruskan tangannya, sehingga posisi dadan siswa berada tepat di belakang pendamping dengan jarak satu langkah penuh. b Apabila pendamping kembali pada posisi yang normal, yaitu mengembalikan lengannya seperti biasa, maka siswa kembali pada posisi semula 5 Menaiki dan menuruni tangga a Cara menaiki tangga 1 Pendamping mendekati pinggiran tangga dan berhenti ketika ia sampai pada pinggiran tangga. 2 Pendamping melangkah naik, siswa maju setengah langkah untuk menemukan tangga dan kemudian melangkah naik. 3 Berat badan siswa harus bertumpu pada ujungkaki 4 Siswa tetap berada satu tangga di belakang pendamping selama menaiki tangga tersebut 5 Setelah sampai di tempat datar, pendamping mengambil mengambil berada langkah ke depan kemudian berhenti sebentar menerangkan pada siswa bahwa sudah sampai di puncak tangga, hal ini menjaga agar jangan terjadi salah langkah dari siswa tersebut b Cara menuruni tangga 1 Pendamping mendekati tangga dan berhenti ketika kakinya sampai pada sisi tangga, siswa tetap berada setengah langkah di belakang pendamping. 2 Sewaktu penamping bergerak menuruni tangga siswa tetap berada setengah langkah di belakang pendamping sampai ia merasakan gerakan turun dari lengan pendamping sambil merasakan tepi tangga. 3 Siswa tetap berada satu tangga di belakang pendamping sewaktu mereka dalam proses berjalan turun tangga 4 Siswa harus menjaga posisi tegak, dengan titik pusat berat badan jatuh di tumitnya, ini terutama untuk menjaga keseimbangan badannya 6 Teknik Duduk Hal yang penting mengenai duduk adalah meyakinkan bentuk, ukuran dan kondisi kursi, apakah kursi itu kosong, cukup kuat, ada benda di atasnya atau tidak dan sebagainya. Ada tiga cara untuk melakukan teknik duduk, yaitu da- ri depan kursi, dari belakang kursi, dan duduk di kursi yang bermeja. Saat duduk di kursi yang bermeja, sesuaikan jarak tubuh dengan meja menjadi lebih dekat 7 Teknik Masuk Mobil a Setelah sampai di depan pintu mobil/kendaraan, pendamping menjelaskan bagaimana posisi pintu, membuka pintu ke sebelah kiri atau ke kanan b Tangan siswa ditunjukkan ke pegangan pintu mobil/kendaraan dan memegangnya, setelah itu barulah pintu dibuka c Setelah pintu terbuka, langsung meraba tempat duduk d Setelah itu barulah masuk dengan tidak melepaskan kontak tangan dengan tempat duduk tersebut 8 Teknik Memindahkan Pegangan Bila siswa merasa lelah berpegangan atau oleh karena kehendak dari pen- damping, posisi pegangan dapat a Tangan siswa yang bebas memegang lengan pendamping. b Tangan yang pertama kali memegang dilepaskan sambil menggeser posisi badan, dan tangan pertama siswa memegang lengan yang bebas dari pendamping. c Tangan pemegang yang kedua dipindahkan ke lengan pendamping yang dipegang pertama. d Setelah itu tangan siswa yang pertama dilepaskan hingga tangan pemegang yang kedua berada atau memegang tangan pendamping kedua 9 Teknik Berbalik Arah Teknik ini dilakukan bila menemui jalan buntu baik kehendak siswa ataupun pendamping. Caranya pendamping berhenti sebentar, kemudian berputar 45o dari posisi semula, dan diikuti oleh siswa sehingga posisi keduanya berhadapan, tangan siswa yang bebas memegang tangan pendamping yang bebas, sambil pendamping berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah semula, siswa melepaskan tangan yang pertama kali memegang tangan pendamping setelah itu berjalan seperti biasa b. Teknik Independent Travel Berjalan Mandiri 1 Pengenalan Ruang dan Objek Seorang tunanetra yang kehilangan penglihatan pada mulanya harus belajar berjalan mandiri, misalnya dimulai dari sekitar tempat tidurnya, lalu di seluruh ruangan dan di luar ruangan. Ia dapat berkeliling dengan meng- gunakan peta mental yang dibentuknya berdasarkan informasi yang diberi- kan kepadanya atau diperoleh melalui eksplorasi yang dilakukannya sendiri. Tujuannya untuk menentukan atau menetapkan titik tolak atau vocal point. Titik tolak atau vocal point yang dianggap paling tepat urgent da- lam sebuah ruangan adalah pintu hal ini di karenakan pintu tidak akan be- rubah tempa. Dalam tahap pengenalan ruang yang dilakukan anak sebaik- nya dibantu dulu oleh seorang pendamping awas dalam hal menjelaskan landmark atau ciri medan. Landmark atau ciri medan yang harus diberitahukan oleh pen- damping awas kepada seorang tunanetra meliputi setiap benda, suara, bau, suhu, atau petunjuk faktual yang sudah dikenal, mudah ditemukan, menetap dan telah diketahui, serta memiliki lokasi permanen di suatu lingkungan 2 Teknik-Teknik Independent Travel a Squaring Off Berfungsi untuk mendapatkan informasi tentang benda-benda di seki- tarnya. Sikap berdiri lurus sesempurna mungkin, menggerakkan tan- gan ke samping menjauhi tubuh hingga bagian belakang tangan me- nyentuh tembok atau daun pintu. Kemudian pembimbing harus mene- rangkan ruangan sebagai berikut 1 Jenis ruangan secara berurutan dan terangkan landmark yang ada di setiap ruangan dengan mengacu pada vocal point pintu. 2 Landmark adalah segala sesuatu yang bisa dijadikan tanda atau patokan yang bersifat permanen b Upper Hand dan Fore Arm tangan menyilang badan sejajar pundak Teknik ini memberikan perlindungan pada bagian dada dan kepala tunanetra dari benturan-benturan benda atau dari rintangan-rintanganyang ada di depannya. Teknik ini sebagaimana tenik lainnya hanya da- pat berfungsi efektif di tempat yang sudah dikenal. Jika diperlukan teknik ini dapat dikombinasikan dengan teknik berjalan lainnya. c Lower Hand dan Fore Arm tangan menyilang badan ke arah depan bawah Teknik ini memberikan perlindungan pada badan bagian bawah teruta- ma bagian perut dan selangkangan dari kemungkinan benturan dengan objek atau rintangan dan halangan yang berada di depannya dan berukuran setinggi perut. Teknik ini juga hanya dapat berfungsi dengan baik jika tunanetra bera- da di lingkungan yang sudah dikenal. Dengan demikian posisi rintangan, halangan dan objek sudah diketahui oleh tunanetra. Pada tempat yang belum dikenal tunanetra, teknik ini juga dapat digunakan akan te- tapi kurang efektif dan hanya bersifat untung-untungan. Menurut Hosni 1996218, pelaksanaan teknik Lower hand dan Fore Arm adalah sebagai berikut 1 Lengan kanan atau kiri diluruskan ke bawah. 2 Sentuhkan telapak tangan ke paha yang berlawanan dengan tangan. Misalnya tangan kanan menyentuh paha kiri atau sebalikya. 3 Angkat tangan tersebut dari paha menjauhi paha kurang lebih 10-15 centimeter. 4 Ujung jari sampai pada pergelangan tangan harus dalam posisi rileks atau lentur tidak tegang. 5 Telapak tangan menghadap ke badan. Lower hand dan Fore Arm dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut Tangan kanan atau tangan kiri disilangkan di muka badan bagian bawah selangkangan dengan telapak tangan menghadap ke badan, dan den- gan variasi gerakan vertikal Gambar 8 Teknik Upper Hand Gambar 9 Teknik Lower Hand d Trailling teknik merambat/menelusuri Teknik merambat/menelusuri ini digunakan oleh tunanetra jika ia akan berjalan dan terdapat media yang dapat ditelusuri, misal dinding, meja dan objek-objek lain. Tujuan penggunaan teknik trailing untuk menda- patkan garis lurus/pengarah dalam menuju sasaran yang akan dituju. Cara melakukan teknik Trailing sebagai berikut 1 Tunanetra berdiri di sebelah benda yang akan diikuti secara paralel. b Dengan tangan kanan atau tangan kiri yang direntangkan sedemikian rupa sehingga tangan itu berada dimukanya, kemudian punggung jari tangan menyentuh benda yang akan diikutinya. 2 Jari-jari agak sedikit ditekuk. Adalah penting untuk menyentuh objek yang diikuti dengan punggung jari karena bagian ini sangat halus dan terasa sakit apabila membentur sesuatu. 3 Pada saat tunanetra berjalan maju dia harus berhati-hati agar supaya tungkai dan jari-jarinya tidak terlalu rapat dengan badan. Apabila terlalu rapat maka tunanetra tidak sempat berhenti kalau terbentur pada sesuatu. Trailling juga dapat mengajarkan siswa untuk menjaga keselarasan se- perti menjaga jarak antara tangan yang meraba benda dengan tubuh agar tidak terlalu dekat, hal ini dikarenakan bila jarak tangan dan tubuh terlalu dekat maka saat ada benturan di depannya ia akan terlambat untuk menghindar mundur. Di dalam melakukan teknik trailing arah gerakan dilakukan searah jarum jam. Teknik-teknik di atas dapat dikombinasikan antara satu dengan yang lainnya, sehingga bisa di dapat teknik-teknik yang lain dalam teknik Independent Travel. Teknik-teknik tersebut adalah sebagai berikut 1 Transfering Open Doorway melalui pintu terbuka Teknik berjalan melalui pintu terbuka, agar berjalan tetap pada arah yang benar dan kepala terlindung dari kemungkinan terbentur pada daun pintu. Menurut Soebrata 199530, Cara pelaksanaan teknik transfering open doorway adalah salah satu lengan tetap melakukan cara berja- lan dengan trailling sedangkan tangan yang lainnya bisa menggu- nakan teknik upper hand dan fore arm. 2 Direction Taking menggunakan garis pengarah Teknik ini digunakan untuk menuju suatu sasaran dengan meman- faatkan atau menggunakan garis pengarah yang ada, misalnya sisi pinggir meja, sisi pinggir tempat tidur dan sebagainya. Agar sampai di tempat tujuan dengan tepat, sedangkan cara yang digunakan disesuaikan dengan keadaan, bisa dengan trailling, up- per hand/lower hand dan fore arm, atau bahkan dengan cara mengkombinasikan cara-cara tersebut; i Tunanetra berdiri di depan objek sedemikian rupa, sehingga bagian belakang kakinya atau pundaknya menyentuh objek dengan rata ii Tunanetra sekarang dapat berjalan maju ke depan dalam satu garis lurus. 3 Search Patterns Pengenalan Ruang Parimeter Method mengelilingi ruangan Menurut Soebrata 199531, untuk mengetahui perkiraan luas sebuah ruangan, caranya pertama kita tentukan dulu vocal point, misal pintu. Sehingga setiap gerakan bertitik tolak pada pintu. Selanjutnya dengan trailling kita mengelilingi ruangan mengikuti arah jarum jam sampai kembali lagi ke vocal point. Grid System menjelajahi ruangan menurut Soebrata dan Maryadi 198736, tujuan menjelajahi ruangan adalah agar dapat mengetahui keadaan ruangan terse- but secara menyeluruh. Caranya adalah kita berjalan dari sudut menyilang ke sudut yang lain, berjalan menyeberang dari dinding yang satu ke dinding yang lain, sehingga seluruh ruangan bisa di jelajahi. Teknik berjalan bisa menggunakan upper hand/lower hand atau dengan mengombinasikan keduanya, bila ruangan yang kita jelajahi itu luas, maka bisa kita lakukan sebagian-sebagian. 4 Dropped Objek mengambil benda jatuh Sebelum melakukan pencarĂan benda yang jatuh, tunanetra harus mendengarkan terlebih dahulu suara benda yang jatuh tersebut sampai suara terakhir. Setelah itu tunanetra menghadapkan badan- nya ke arah suara terakhir dari benda jatuh tersebut. Tunanetra harus melangkahkan kaki mendekati suara terakhir dari benda yang jatuh dan berjongkok untuk memulai mencari. Cara mencari benda hendaknya tangan meraba per- mukaan lantai yang dimulai dari dekat kaki sampai melebar ke se- kitar kaki. Apabila belum ketemu hendaknya tunanetra melangkah satu langkah ke depan dan mulai mencari kembali. Untuk menghindari benturan kepala dengan objek sewaktu jongkok, maka ada dua cara dalam berjongkok, yaitu Pertama dengan jalan membungkukkan badan ke arah benda dengan sikap tangan upper hand melindungi bagian atas tubuh yang di sesuaikan dengan keadaan, sedangkan tangan yang lain meraba-raba ke tempat benda yang jatuh tersebut. Cara yang lain dengan jongkok, kepala dan badan tegak lurus dengan salah satu tangan melakukan teknik upper hand atau perlindungan tubuh bagian atas dan tangan yang lain meraba untuk mencari benda yang jatuh. Gambar 10. Teknik Trailling Gambar 11. Teknik Transfering Open Doorway c. Teknik Tongkat 1 Teknik Trailing Teknik ini sebetulnya adalah teknik diagonal yang digunakan untuk trailing. Tujuan penggunaan teknik ini agar tunanetra mampu berjalan di dalam ruangan yang sudah dikenal dan dengan teknik ini tunanetra dapat berjalan lurus dalam mencapai tujuan tertentu. Caranya posisi tongkat sama dengan teknik diagonal, tetapi posisi tip/ujung tongkat menempel pada permukaan datar yang ada pada tembok atau mungkin pagar batu yang datar pada pinggiran yang horisontal dan vertikal. a Teknik di luar ruangan out door technique Teknik ini dapat digunakan di daerah yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal oleh tunanetra. Panjang tongkat harus sudah diukur yang sebaik-baiknya dengan tunanetra yang memakainya. Panjangnya yang paling ideal adalah setinggi tulang dada tunanetra yang memakainya. Dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa teknik yang harus dikuasai dengan baik oleh tunanetra, yaitu 1 Mengenai cara memegang tongkat grip. 2 Lebar busur ke kiri dan ke kanan harus selalu sama dan stabil arc consistent. 3 Sebelum melangkahkan kaki, tunanetra harus mengecek dulu tempat yang akan diinjak untuk berjalan clearing before walk. 4 Posisi tangan lentur di depan pada tengah-tengah badan arm resting on body. 5 Gerak tongkat dan langkah kaki ada koordinasi yang harmonis coordination/keep in step. Dalam teknik di luar ruangan out door technique, akan diuraikan beberapa teknik yang harusdikuasai oleh tunanetra dan mampu menggunakan teknik dengan trampil pada daerah/tempat yang sedang dilaluinya. Teknik-teknik itu ialah 1 Teknik sentuhan Touch technique Teknik ini dapat digunakan di daerah yang sudah dikenal maupun daerah yang belum dikenal oleh tunanetra, yang masih asing bagi tunanetra untuk menjelajahi tempat tersebut, namun tunanetra dapat berjalan dengan selamat. Prosedur dari teknik sentuhan ini adalah sebagai berikut a Cara memegang tongkat grip Cara memegang grip diharapkan tidak tegang, tetapi harus relax seperti orang yang sedang berjabat tangan. Dari yang benar-benar berfungsi dalam memegang tongkat in adalah jari telunjuk yang untuk menahan tongkat dan ibu jari, untuk menekan pegangan atau grip. Sedang jari-jari yang lain fungsinya hanya sebagai pembantu saja. Posisi tongkat harus rapat pada telapak tangan dengan telunjuk lurus pada bagian tongkat atau grip yang datang rata. b Lebar Busur Lebar busur ke kiri dan ke kanan harus selalu sama atau stabil sehingga dapat melindungi kaki kiri dan kanan tip tepat lurus dengan bahu tidak boleh terlalu lebar ke kiri atau ke kanan. Posisi pergelangan tangan juga tidak boleh terlalu ke tepi / sisi kiri atau kanan, terlalu ke atas atau ke bawah. c Mengecek sebelum melangkah clearing Sebelum melangkahkan kaki, tunanetra harus mengecek lebih dulu tempat yang akan diinjak untuk berjalan. Bila menyentuh sesuatu harus benar-benar diperhatikan apakah jenis benda itu. Cara mengecek Ujung tongkat tip digeserkan dari samping kiri ke samping kanan atau sebaliknya, kemudian digeserkan kembali ke depan pada tengah-tengah badan, selanjutnya ditarik digeser menuju tengah-tengah ke dua telapak kaki. Teknik ini digunakan juga waktu akan menyeberang jalan. d Posisi tangan Posisi pergelangan tangan di tengah-tengah badan, sehingga kalau menyentuh / menabrak sesuatu benda atau terkait tidak menusuk perut dan bagian busurnya akan menyentuh benda itu lebih dulu. Pergelangan tangan yang ditengah-tengah ini juga akan membantu tunanetra untuk dapat bejalan dengan lurus. e Gerak tongkat dan langkah kaki ada koordinasi yang harmonis Gerak tongkat dan langkah kaki harus selalu seimbang, seirama dan stabil. Dengan posisi kalau kaki kiri melangkah, maka ujung tongkat bergerak ke kanan dan sebaliknya kalau kaki kanan melangkah maka ujung tongkat bergerak ke kiri. Sela langkah dapat terjadi jika kaki geraknya tidak seperti tersebut diatas. Misalnya kaki kiri melangkah dan ujung tongkat ada di depan kaki kiri melangkah dan ujung tongkat ada di depan kaki kiri tersebut. Demikian pula pada langkah kaki kanan, juga dapat terjadi salah langkah atau out step. Hal ini harus segera diingatkan oleh guru instruktur orientasi dan mobilitas setelah terjadi beberapa langkah out step, padahal anak tidak menyadari. Setelah prosedur tersebut diketahui anak tunanetra, maka cara berjalan adalah dengan menyentuhkan ujung tongkat di daerah kaki kiri, kemudian digeser ke kanan ke depan telapak kaki ke kanan sampai menyentuh garis pengarah shore line terus diangkat sedikit dari permukaan tanah dikembalikan ke kiri atau sebaliknya dari permukaan tanah dikembalikan ke kiri atau sebaliknya dapat pula dimulai dengan menyentuhkan ujung tongkat pada sisi kanan, terus digeser ke kiri dan seterusnya. Secara rasional di jalan yang rata / trotoar bila tunanetra menggunakan teknik ni akan selamat sampai ke tujuan, karena dengan ujung tongakt yang digeser ke arah garis pengarah yaitu pada sebelah kiri atau kanan tunanetra, semua benda akan tersentuh, sehinggga kaki dan tubuh akan terlindung oleh gerakan tongkat. 2 Teknik Dua Sentuhan Two Touch Technique Teknik dua sentuhan ini pada dasarnya adalah sama dengan teknik sentuhan, perbedaanya hanya pada penggunaan dan geseran tongkat saja. Teknik dua sentuhan digunakan untuk berjalan di jalan / tempat yang kasar, dimana kalau tongkat digeser busrnya akan kerap tersangkut / menusuk jalan atau tanah, sehingga gerakan tongkat ke kiri dan kanannya tidak dengan digeser, melainkan sedikit diangkat ujungnya dari tanah jangan lebih dari 10 sentimenter diatas tanah, dan disentuhkan ke sebelah kiri dan kanan di depan telapak kaki jaraknya sama dengan teknik sentuhan. Tujuan penggunaan teknik ini untuk berjalan mengikuti shore line, mencari belokan, jalan masuk, jalan yang bahaya kasar dan untuk mengecek posisi tubuh berada di pinggir atau tidak. Teknik sentuhan maupun teknik dua sentuhan ini tidak selalu digunakan sepanjang perjalanan, tetapi hanya digunakan dalam hal-hal seperti tersebut ditas. 3 Teknik Menggeserkan Tip Slide Technique Prosedur teknik ini juga sama dengan prosedur kedua teknik tersebut diatas. Perbedaannya juga hanya pada penggunaan geseran waktu menggerakan tongkat. Teknik ini digunakan pada jalan/trotoar/tempat yang rata/licin permukaannya dengan menggunakan ujung tongkat ke kiri atau ke kanan pada jalan/trotoar/tanah yang rata, sehingga semua benda, lubang baik besar maupun kecil dapat tersentuh oleh bagian busur tongkat dan akhirnya tidak ada sesuatu halangan pun yang tidak tersentuh oleh bagian busur dari geseran tongkat sebelumnya. Berjalan dengan teknik menggeserkan tip yang besar, akan membawa tunanetra sampai ke tempat tujuan dengan aman dan sleamat karena semua halangan akan terdeteksi. 4 Teknik Naik dan Turun Tangga Up and Down Stair Technique Tujuan penggunaan teknik ini, agar tunanetra mampu berjalan naik dan turun tangga dengan aman dan selamat sampai habis seluruh tangga yang sedang dilalui. Sebelum naik atau turun tangga tunanetra harus melakuka squaring off pada pinggir tangga yang pertama untuk naik atau turun, dengan menggunakan ujung ke dua telapak kaki, dirasakan pada bagian pinggir tangga lurus dengan tangga. Setelah squaring off, tunanetra mengecek tinggi tangga dan lebar tangga serta posisinya sudah di tengah-tengah jalan atau belum, untuk menghindari kalau tangga naik atau turunnya tidak menggunakan pegangan agar tunanetra tidak terjatuh ke samping tangga. Tetapi kalau disamping kiri/kanan ada pegangan, tunanetra lebih baik naik atau turun mendekati pegangan. Tunanetra dapat naik atau turun denga sebelah tangan memegang tongkat dan sebelumnya berpegangan pada pegangan tangan. Cara mengecek tunanetra menggeserkan ujung tongkatnya dari sisi kiri ke sisi kanan, kemudian digeser kembali ke tengah dan ditarik ke ara kaki, seperti waktu mencek pada awal perjalanan. Jika tunanetra sudah yakin bahwa posisinya sudah benar dan siap akan naik, tunanetra hendaknya menggunakan teknik tongkat menyilang tubuh dengan ujung tongkat disentuhkan pada pinggiran tangga yang kedua dan tegak agak diangkat sehingga ujung tongkat kira-kira hanya 5 centimeter berada di bawah bibir tangga ke dua. Kemudian mulai naik dengan posisi tangga dan ujung tongkat yang tidak berubah sampai terasa tangga naik habis, karena bila tangga naik habis ujung tongkat tidak menyentuh tangga lagi. Bila turun tekniknya juga sama, hanya ujung tongkat disentuhjkan pada tangga ke dua pada bagian bibirnya kemudian sedikit menggantung dan bila tangga turun nanti sudah habis, ujung tongkat akan menyentuh lantai, selanjutnya tunanetra berjalan dengan teknik menggeserkan tip slide technique. Untuk berjalan naik dan turun tangga yang lebar permukaan tangganya tidak sama, tiap-tiap tangga harus dicek, sehingga tiap melangkah satu tangga, tunanetra tidak boleh lupa mengecek, jadi naik atau turunnya satu tangga demi satu tangga. Teknik-teknik tersebut harus dilatihkan pada tunanetra, dimulai dari lingkungan tunanetra sendiri. Kalau mulai latihan di kompleks sekolah, maka latihan di lingkungan sekolah ini harus dikuasai dulu, kemudian diperluas sampai berjalan di keramaian kota yang penuh kesibukan lalu lintas. Kadang-kadang seorang tunanetra ingin berjalan menyusuri sesuatu pagar, tembok, tepi parit, sisi jalan dan lain-lain, maka dia harus tetap mengayunkan tongaktnya ke akan dan ke kiri agar dapat menyentuh benda-benda tersebut. Tunanetra tidak boleh sama sekali hanya menggeserkan ujung tongkatnya untuk ditarik sepanjang benda itu, karena perbuatan yang demikian ini akan membahayakan tunanetra sendiri, sebab badannya tidak terlindung oleh tongkat. Dalam melatih tunanetra untuk berjalan dengan teknik tongkat yang benar-benar dikuasai, guru orientasi dan mobilitas akan membutukan waktu yang cukup lama, karena harus mengulangi latihan-latihan sampai beberapa kali, sehinga tunanetra benar-benar menguasainya. Lakukan secara berpasangan dengan salah satu peserta menutup mata dengan blind fold a. Lakukan cara berjalan dengan pendamping awas menggunakan Teknik-teknik sesuai materi modul b. Lakukan praktek menerapkan Teknik melindungi diri c. Lakukan cara berjalan dengan tongkat dengan salah satu Teknik yang anda pilih dalam kegiatan berjalan lurus, berjalan berbelok, naik turun tangga secara berpasangan Orientasi dan Mobilitas OM adalah suatu rangkaian pengetahuan dan keterampilan, yang mana untuk mendalaminya memerlukan kemampuan berpikir untuk mengenali segenap informasi yang diterima melalui inderanya. Adapun tujuan dari pada program O&M adalah agar anak berkebutuhan khusus tunanetra mampu mengenali lingkungan baik yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal dengan baik, dapat bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, serta untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara efektif dan aman, tanpa memiliki ketergantungan yang besar kepada orang lain. Adapun tekni yang perlu diajarkan bagi peserta didik tunanetra adalah Teknik pendamping awas, Teknik berjalan mandiri dan Teknik tongkat. Kerjakan soal berikut dengan memberikan tanda silang pada jawaban benar 1. Seorang tunanetra sedang berjalan, tiba-tiba pensilnya jatuh ke tanah. Teknik yang paling tepat digunakan adalah …. a. Mengambil dengan Lower Hand b. Mengambil dengan Upper Hand c. Jongkok dengan bantuan tongkat mencari pensil tersebut d. Kombinasi upper hand dan upper hand e. Menerapkan Teknik dropped object 2. Seorang tunanetra sedang berjalan, tiba-tiba pensilnya jatuh ke tanah. Kemudian ia menyilangkan tangannya ke atas. Bagaimana seharusnya posisi tangannya saat mengambil benda tersebut? a. Salah satu lengan menyilang ke atas menutupi bagian kepala untuk melindungi kepala dari benturan, lengan yang lain membuat lingkaran kecil di sekitar kaki b. Membungkuk untuk mencari dengan upperhand, membuat lingkaran kecil di sekitar kaki, c. Mengenali bunyi benda jaturh, duduk jongkok dan teknik dropped objects d. Mengenali sumber bunyi terhenti, badan tegak lurus kemudian berjongkok mulai mencari e. Salah satu lengan menyilang ke atas menutupi bagian kepala untuk melindungi kepala dari benturan, membuat lingkaran kecil dengan ujung kaki 3. Teknik Busur dilakukan dengan menggerakkan tongkat seperti membuat busur untuk berjalan. Teknik ini hanya bisa digunakan dalam kondisi medan yang rata dan licin. Berikut merupakan teknik yang digunakan untuk medan tanah, berumput atau tidak rata a. Two touch Teknik b. Teknik triling c. Teknik diagonal d. Teknik busur e. Teknik gesek 4. Siswa tunanetra akan menyeberang jalan. Bagaimana cara pendamping awas membuat kontak dengan tunanetra? a. Menyentuh punggung tangan tunanetra dan mengajaknya menyebrang jalan. b. Langsung mengajak tunanetra menyebrang jalan. c. Menepuk pundak tunanetra dan mengajaknya menyebrang jalan. d. Tunanetra menepuk pundak pendamping awas dan mengajaknya menyebrang jalan. e. Pendamping awas menanyakan ke tunanetra dan berjalan. 5. Orientasi dan mobilitas penting diajarkan kepada tunanetra, karena dengan menguasai mobilitas tunanetra dapat…… a. Bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain serta menentukan posisi seseorang terhadap benda-benda penting yang ada di sekitarnya. b. Berpindah tempat tanpa merepotkan orang lain. c. Bergerak dan berpindah tempat sesuai keinginan dengan cara yang benar. d. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan aman. e. Semua benar Setelah menyimak materi, melakukan percobaan laithan serta mengerjakan soal evaluasi, menurut anda apakah materi tersebut dapat diterapkan pada peserta didik tunanetra di sekolah inklusi? Jika ya, bagaimana teknisnya dan jika tidak berikan alasannya mengapa? Jawab ………………………………………………………………………………………………………………………. BAB IV PENUTUP Orientasi dan mobilitas sosial komunikasi OMSK merupakan program khusus bagi anak berkebutuhan khusus tunanetra atau gangguan penglihatan. Sebagaimana diketahui bahwa penglihatan merupakan salah satu sarana untuk perkembangan mental manusia. Dengan penglihatan yang baik, manusia dapat melaksanakan semua kegiatan dengan lancar. Dengan hilangnya atau rusaknya penglihatan akan sangat berpengaruh terhadap penampilan, akses pendidikan dan hambatan kehidupan sosial. Pengaruh secara langsung gangguan tersebut dapat dilihat pada mobilitas, motorik dan koordinasi gerak. Apabila seorang tunanetra berada di tempat yang baru dikenalnya, maka mereka harus mengadakan orientasi pada tempat mereka berada. Hilangnya penglihatan atau kurang berfungsinya indera penglihatan seseorang menyebabkan kurang maksimalnya informasi yang diterima. Untuk mengoptimalkan penerimaan informasi bagi seorang tunanetra yang masih ada sisa penglihatannya perlu diberikan alat bantu untuk memperjelas obyek yang diterimanya. Kemampuan gerak seorang tunanetra juga terbatas. Oleh karena itu di sekolah perlu dilakukan pembelajaran pengembangan khusus Orientasi dan mobilitas sosial dan komunikasi OMSK. Program Pengembangan khusus OMSK ini diperlukan anak tunanetra/gangguan penglihatan agar mereka mampu mengenali lingkungan, bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dan melakukan aktivitas sehari-hari, tanpa harus memiliki ketergantungan yang besar pada orang lain. DAFTAR PUSTAKA Djaja, R . 2008. Konsep Dasar Orientasi dan Mobilitas. [Online]. Tersedia Djadja, R. 1994 Dasar-dasar O&M bagi Anak Tunanetra Usia Pra Sekolah. Bandung Jurusan PLB FIP IKIP Bandung tidak dipublikasikan. Hill, E., and Ponder, P. 1976 Orientation and Mobility Techniques, A Guide for the Practitioner. New York American Foundation for the Blind. Hosni, Irham. 1996. Buku Ajar Orientasi dan Mobilitas. Jakarta Departemen Pendi- dikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi -tanpa tahun. Book of Simple Steps. Lifelong Learning Program. Scholl, ed. 1986 Foundations of Education for Blind and Visually Handicapped Children and Youth, Theory and Practice. New York American Foundation for the Blind. Soebrata, Marika dan Maryadi. 1987. Orientasi Mobilitas. Surakarta UNS RIWAYAT PENULIS Sugini, Lahir di Boyolali 23 September 1979. Pendidikan S1 diselesaikan tahun 2003 di Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Sebelas Maret. Tahun 2005 diangkat sebagai dosen di almamaternya hingga sekarang. Pada tahun 2008-2010 menempuh studi lanjut S-2 di Universitas Pendidikan Indonesia mengambil jurusan Pendidikan Kebutuhan Khusus. Sebagai pengembangan diri pada tahun 2014 mengikuti e-learning course melalui online class yang diselenggarakan oleh Perkins International School for the Blind dengan subjek Working with Learner with Autism Spectrum Disorder and Visual Impairments dibiayai oleh Perkins Indonesia. Selama aktif menjadi Dosen di Program Studi Pendidikan Luar Biasa, ia terpilih sebagai ketua Laboratorium Program Pendidikan Luar Biasa periode 2014-2019 serta menjadi Head of Self Assesment Report SAR Writing Team untuk Sertifikasi Internasional Program Studi PLB pada Asean University Network Quality Assurance AUN-QA di Tahun 2019. Aktif terlibat dalam berbagai kegiatan diluar pengajaran, antara kepengurusan Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia APPKhI tingkat provinsi Jawa Tengah. Aktif dalam kepengurusan di Pusat Studi Disabilitas LPPM UNS. Tahun 2017 ditunjuk menjadi Tim Pengembang pada program bimbingan dan program layanan di Balai Pengembangan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus BPPKLK provinsi Jawa Tengah. Menjadi reviewer buku guru dan buku siswa bidang Tunagrahita, Tunanetra dan Autis kurikulum 2013. Berbagai penelitian telah dilakukan dalam lima tahun terakhir diantaranya Pengembangan perangkat kurikulum, pembelajaran dan evaluasi dalam pendidikan inklusi, Pengembangan Pendidikan Inklusi di Kabupaten Wonogiri, Model Eksploitasi Bahasa Yang Efektif Bagi Pengajaran Anak Autis, Peningkatan Hasil Belajar Siswa Lamban Belajar Dengan Talking Drawing Strategy di Sekolah Dasar Inklusi di Surakarta, Pengembangan Bahan Pembelajaran Utama BPU Pendidikan Inklusif dan Perlindungan Anak untuk Calon Mahasiswa di Lembaga Kependidikan dan Tenaga Kependidikan LPTK, Pengembangan Pendidikan Inklusi Di Perguruan Tinggi, Strategi Olah Bahasa untuk Pembelajaran Multimodal dengan Pendekatan Analisis Wacana. Dari penelitian tersebut telah dihasilkan artikel yang diseminarkan baik di dalam negeri maupun di luar negeri dan menghasilkan publikasi berupa jurnal diantaranya The Effectiveness of a Two-day Inclusion Workshop on Teachers'Attitudes, Understanding, and Competence in inclusive Education dipublikasikan oleh World Journal of Education, Politeness Strategies Performed by Teachers to Effectively Assist Children With Autism in Their Learning Process dipublikasikan oleh jurnal Humaniora UGM, Development of Inclusive Education Course at The Faculty of Teacher Training and Education Universitas Sebelas Maret dipublikasikan oleh JWED International Journal for Studies on Children, Woman Eldelry and Disabled Malaysia. Teacher Non-Verbal Behavior as Part of Multimodal Interaction to Children with Autism dipublikasikan oleh Advances in Social Science, Education and Humanities Research. Terlibat aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan menjadi narasumber baik dalam lingkup kegiatan kampus UNS maupun instansi lain seperti menjadi Juri Olimpiade baik seni, olahraga dan literasi bagi siswa berkebutuhan khusus tingkat nasional, menjadi juri pada lomba guru berkreasi dan inovasi tingkat nasional, menjadi narasumber dalam kegiatan kerjasama dengan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan, Direktorat PKLK, BPPKLK, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten dan masih banyak lagi. Di tahun 2017 bersama tim pengabdian kolaborasi dengan Pendidikan Biologi melalui dana kemristekdikti mengembangkan Kantin Sehat Gluten Free-Casein Free Untuk Anak Autis. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Dasar Orientasi dan MobilitasR DjajaDjaja, R. 2008. Konsep Dasar Orientasi dan Mobilitas. [Online]. Tersedia and Mobility Techniques, A Guide for the PractitionerE HillP PonderHill, E., and Ponder, P. 1976 Orientation and Mobility Techniques, A Guide for the Practitioner. New York American Foundation for the Ajar Orientasi dan Mobilitas. Jakarta Departemen Pendi-dikan dan KebudayaanIrham HosniHosni, Irham. 1996. Buku Ajar Orientasi dan Mobilitas. Jakarta Departemen Pendi-dikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi -tanpa tahun. Book of Simple Steps. Lifelong Learning Program. of Education for Blind and Visually Handicapped Children and Youth, Theory and PracticeG T SchollScholl, ed. 1986 Foundations of Education for Blind and Visually Handicapped Children and Youth, Theory and Practice. New York American Foundation for the Mobilitas. Surakarta UNS RIWAYAT PENULISMarika SoebrataDan MaryadiSoebrata, Marika dan Maryadi. 1987. Orientasi Mobilitas. Surakarta UNS RIWAYAT PENULIS
Jakarta Kognitif adalah hal yang berhubungan dengan atau melibatkan kognisi. Sementara itu, kognisi merupakan suatu proses yang berhubungan dengan memperoleh pengetahuan dan pemahaman. Kognitif adalah proses otak yang mendasari banyak aktivitas sehari-hari, dalam kesehatan dan penyakit, sepanjang rentang usia. Fungsi kognitif adalah bagian yang sangat penting untuk kehidupan sehari-hari, mengatur pikiran dan tindakan. Ciri-ciri Perkembangan Kognitif Peserta Didik Usia Sekolah Dasar, Tidak Boleh Diabaikan 5 Kebiasaan Sehari-hari yang Dapat Meningkatkan Fungsi Otak Kognisi adalah Proses Memperoleh Pengetahuan, Ketahui Peran, Jenis, dan Manfaatnya Perkembangan kognitif dipelajari melalui proses mental dan persepsi sensorik. Jenis proses kognitif meliputi berpikir, mengetahui, mengingat, menilai, dan memecahkan masalah. Kemampuan berkomunikasi, interaksi mendukung orang lain dan kemampuan memaksimalkan semua kemampuan sensorik seperti melihat, mendengar, dan lain-lain diperlukan untuk pengembangan kognitif secara maksimal. Berikut rangkum dari berbagai sumber, Rabu 19/5/2021 tentang kognitif berpikir Ivan Samkov dari PexelsMenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kognitif adalah berhubungan dengan atau melibatkan kognisi. Sementara itu, kata 'kognisi' atau 'cognition' sebenarnya berakar dari bahasa Latin 'cognoscere' yang berarti 'mengenal'. KBBI mendefinisikan kognisi sebagai kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan termasuk kesadaran, perasaan, dan sebagainya atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Kognisi juga berarti proses, pengenalan, dan penafsiran lingkungan oleh seseorang. Sederhanannya, kognitif adalah pemikiran atau kemampuan untuk berpikir. Kognisi pada dasarnya mengontrol pikiran dan perilaku. Kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Menurut Cambridge Cognition, kognisi memiliki dasar fisik di otak dengan lebih dari 100 miliar sel saraf di otak manusia yang sehat. Masing-masing dapat memiliki hingga koneksi dengan sel saraf lain yang disebut neuron. Semua ini menjadikannya organ yang sangat rumit. Kognisi pada dasarnya mengontrol pikiran dan perilaku dan diatur oleh sirkuit otak terpisah yang didukung oleh sejumlah sistem neurotransmitter. Ada sejumlah bahan kimia otak yang memainkan peran utama dalam mengatur proses kognitif; termasuk dopamin, noradrenalin norepinefrin, serotonin, asetilkolin, glutamat dan GABA. Kognisi terus berubah dan beradaptasi dengan informasi baru, mengatur perilaku sepanjang umur dan didukung oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan ini bahkan bisa terjadi sebelum kelahiran. Misalnya saja sindrom alkohol janin yang berhubungan dengan gangguan kognisi yang parah. Sepanjang masa bayi, masa kanak-kanak, dan remaja, fungsi kognitif terus berkembang, dan saat memasuki kehidupan dewasa selanjutnya, sebagai bagian dari proses penuaan normal, beberapa fungsi ini mulai menurun saat neuron mati dan mekanisme untuk menggantikan neuron ini menjadi kurang. Memahami kognisi penting tidak hanya untuk perkembangan kognitif yang sehat, tetapi defisit terjadi pada sejumlah gangguan Kognitif bagi ManusiaSementara itu, dampak kognitif adalah sebagai berikut Memahami dunia. Saat menerima sensasi dari dunia di sekitar, informasi yang dilihat, dengar, rasakan, sentuh, dan cium pertama-tama harus diubah menjadi sinyal yang dapat dipahami oleh otak. Proses persepsi memungkinkan manusia untuk menerima informasi sensorik dan mengubahnya menjadi sinyal yang dapat dipahami dan ditindaklanjuti oleh otak. Membentuk gambaran. Dunia ini penuh dengan pengalaman indrawi yang tak ada habisnya. Untuk memahami semua informasi yang masuk ini, penting bagi otak untuk dapat mengurangi pengalaman tentang dunia hingga ke dasar. Seseorang bisa mengingat semuanya, jadi peristiwa direduksi menjadi konsep dan ide kritis yang dibutuhkan. Mengisi kekosongan. Selain mengurangi informasi agar lebih mudah diingat dan dipahami, orang juga menguraikan ingatan ini saat merekonstruksinya. Dalam beberapa kasus, elaborasi ini terjadi ketika orang berjuang keras untuk mengingat sesuatu. Ketika informasi tidak dapat ditarik kembali, otak terkadang mengisi data yang hilang dengan apa pun yang tampaknya cocok. Berinteraksi dengan dunia. Kognisi tidak hanya melibatkan hal-hal yang terjadi di dalam kepala, tetapi juga bagaimana pikiran dan proses mental ini memengaruhi tindakan. Perhatian pada dunia di sekitar, ingatan peristiwa masa lalu, pemahaman bahasa, penilaian tentang bagaimana dunia bekerja, dan kemampuan untuk memecahkan masalah semuanya berkontribusi pada bagaimana kita berperilaku dan berinteraksi dengan lingkungan Proses KognitifIlustrasi Kognitif Credit banyak jenis proses kognitif. Dirangkum dari Very Well Mind, proses kognitif adalah sebagai berikut Perhatian. Perhatian adalah proses kognitif yang memungkinkan orang untuk fokus pada rangsangan tertentu di lingkungan. Bahasa. Perkembangan bahasa adalah proses kognitif yang melibatkan kemampuan untuk memahami dan mengungkapkan pikiran melalui kata-kata lisan dan tertulis. Ini memungkinkan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lain dan memainkan peran penting dalam pemikiran. Pembelajaran. Pembelajaran membutuhkan proses kognitif yang terlibat dalam menerima hal-hal baru, mensintesis informasi, dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan sebelumnya. Memori. Memori adalah proses kognitif penting yang memungkinkan orang untuk menyandikan, menyimpan, dan mengambil informasi. Ini adalah komponen penting dalam proses pembelajaran dan memungkinkan orang untuk mempertahankan pengetahuan tentang dunia dan sejarah pribadi mereka. Persepsi. Persepsi adalah proses kognitif yang memungkinkan orang mengambil informasi melalui indera sensasi mereka dan kemudian memanfaatkan informasi ini untuk merespons dan berinteraksi dengan dunia. Pikiran. Pikiran adalah bagian penting dari setiap proses kognitif. Ini memungkinkan orang untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan penalaran yang lebih Proses KognitifProses kognitif memengaruhi setiap aspek kehidupan, dari sekolah, pekerjaan, hingga hubungan. Kegunaan proses kognitif adalah sebagai berikut Mempelajari hal-hal baru. Belajar membutuhkan kemampuan untuk menerima informasi baru, membentuk ingatan baru, dan membuat hubungan dengan hal-hal lain yang sudah diketahui. Membentuk kenangan. Memori adalah topik utama yang menarik di bidang psikologi kognitif. Bagaimana manusia mengingat, apa yang diingat, dan apa yang dilupakan mengungkapkan banyak hal tentang bagaimana proses kognitif bekerja. Membuat keputusan. Setiap kali orang membuat keputusan apa pun, itu melibatkan membuat penilaian tentang hal-hal yang telah mereka proses. Ini mungkin melibatkan membandingkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, mengintegrasikan informasi baru ke dalam ide yang sudah ada, atau bahkan mengganti pengetahuan lama dengan pengetahuan baru sebelum membuat pilihan.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Komunikasi adalah suatu proses yang kompleks dan melibatkan banyak aspek pemikiran serta kemampuan sosial. Jika kerusakan pada otak terjadi maka akan mempengaruhi salah satu kemampuan ini termasuk kemampuan untuk berkomunikasi dengan sukses. Kesulitan dalam komunikasi kognitif adalah istilah yang sering digunakan untuk masalah tersebut. Bagian lobus frontal khususnya sangat penting untuk kemampuan komunikasi kognitif karena peranannya dalam fungsi eksekutif otak, kemampuan berpikir fleksibel dan perilaku sosial. Walaupun demikian, banyak bagian otak lain yang berinteraksi untuk menampilkan suatu keterampilan lain yang juga penting seperti area lobus temporal dan lobus yang menggunakan orientasi kognitif, dalam teori – teorinya akan menitik beratkan pada proses – proses sentral misalnya pada sikap, ide, dan harapan yang digunakan untuk menerangkan perilaku. Orentasi kognitif berbeda dengan orientasi psikoanalitik yang mempelajari proses yang paling dalam seperti ketidaksadaran, Id, juga terhadap teori – teori mengenai behavioristik yang menekankan studi tentang perilaku pada proses yang terjadi di luar seperti rangsangan dan balasan. Pembelajaran mengenai teori kognitif berhubungan dengan proses yang terjadi pada sistem otak seseorang dan juga sistem saraf seseorang yang belajar, bahwa seseorang akan memproses informasi yang masuk secara Orientasi KognitifOrientasi kognitif dalam psikologi komunikasi memiliki konsep dasar yang mempelajari konsep komunikasi, pemikiran dan membangun pengetahuan. Diungkapkan dalam teori kognitif bahwa tingkah laku manusia yang aktif dan digambarkan sebagai lingkungan yang dipersepsikan oleh orang yang terlibat itu sendiri, penyusunan kognitif yang mencakup proses belajar, berpikir, memecahkan masalah, lupa, perubahan psikologi dan struktur kognitif. Semua itu bisa dipengaruhi oleh kondisi biologis dari individu, prinsip organisasi, dan kondisi yang menghasilkan struktur asli, kebutuhan dan emosi sosial kognitif yang digunakan dalam psikologi, pendidikan dan komunikasi memegang peranan dalam pemerolehan pengetahuan seseorang yang bisa berhubungan langsung dengan pengamatan terhadap orang lain dalam konteks interaksi sosial, pengalaman dan pengaruh media luar. Teori ini dikemukakan oleh Albert Bandura sebagai perluasan dari teori belajar sosial yang disusunnya. Teori tersebut menyatakan bahwa ketika orang – orang mengamati satu contoh yang menampilkan perilaku serta konsekuensinya, mereka dapat mengingat urutan peristiwa tersebut dan menggunakan informasi ini untuk menggiring perilaku pengaruh peranan media massa di masyarakat, memahami mekanisme psikologis melalui komunikasi simbolis akan mempengaruhi pikiran manusia. Albert Bandura mengembangkan teori ini sejak tahun 1960an yang menjelaskan pada bagaimana dan mengapa ada kecenderungan meniru apa yang orang lihat melalui media tertentu atau melalui orang lain. Ini adalah pengembangan dari teori belajar sosial yang mengemukakan kerangka kerja untuk memahami dan memprediksi serta mengubah perilaku manusia. Orientasi kognitif dalam psikologi komunikasi dipahami lewat teori sosial kognitif yang menekankan kepada kapasitas manusia untuk belajar tanpa melewati pengalaman itu teori ini juga disebut sebagai teori belajar observasional yang bergantung pada beberapa hal, termasuk pada kemampuan subyek untuk memahami dan mengingat apa yang dilihatnya, mengidentifikasi lewat mediasi karakter atau situasi yang akan mempengaruhi peniruan dari perilaku. Orientasi kognitif dalam psikologi komunikasi kerap menggunakan teori ini sebagai salah satu teori belajar pada media dan komunikasi massa, komunikasi kesehatan atau komunikasi interpersonal. Tujuannya adalah untuk menjelaskan bagaimana cara seseorang mengatur perilakunya melalui kontrol dan penguatan untuk mencapai perilaku agar dapat mencapai tujuan yang dapat dipertahankan sepanjang waktu. Ketahui juga mengenai tahap perkembangan kognitif pada orang dewasa , perkembangan kognitif pada dewasa awal dan jenis gangguan kognitif pada Teori BanduraOrientasi kognitif dalam psikologi komunikasi dalam teori Bandura memiliki awal dari berbagai gagasan mengenai teori – teori yang berbeda seperti berikutModel of Causation / Model Penyebab – Adaptasi yang dilakukan oleh manusia dalam model teori ini dijelaskan melalui istilah triadic reciprocal causation’ atau timbal balik triadik’. Model ini menggambarkan terjadinya interaksi yang berlangsung terus menerus antara faktor – faktor lingkungan, perilaku dan Kemampuan / Symbolizing Capability – Model teori ini menggambarkan kapasitas manusia untuk bebas dari proses belajar berupa trial and error’, dimana simbolisasi memungkinkan pemikiran abstrak individu untuk mengonsepkan pengalaman yang mungkin terjadi, diuji dengan pemikiran Perwakilan / Vicarious Capability – Menyatakan bahwa seseorang dapat mempelajari perilaku dengan mengamati tindakan orang lain dan konsekuensinya dari tindakan itu. Kemampuan yang dimiliki manusia untuk belajar yang diturunkan akan menghalangi proses belajar sambil melakukan untuk mencapai Berpikir – Perilaku yang berasal dari manusia sebagian memiliki tujuan tertentu dan karenanya diatur oleh pemikiran yang telah terjadi. Pemikiran akan memerlukan perenungan mengenai konsekuensi tindakan, menetapkan tujuan dan merencanakan tindakan apa yang akan dilakukan. Individu akan mempu merealisasikan konsep pemikiran serta hasilnya dan menciptakan motivasi atau bahkan hambatan untuk mengarahkan pemilihan dari tindakan apa yang akan Mengatur Diri Sendiri – Kombinasi standar diri pribadi dan standar masyarakat digunakan untuk evaluasi diri sendiri dan dapat diubah sesuai dengan kebutuhan. Pengawasan diri akan diharapkan memiliki efek berupa motivasi atau penghambat yang dialami seseorang ketika ia sedang mempertimbangkan untuk tindakan Refleksi Diri – Orang – orang mengevaluasi perilaku mereka dan menyesuaikan sesuai dengan konsekuensi yang akan dialami dan juga patuh terhadap standar dari dalam dan luar. Ini adalah bagian dari persepsi individu mengenai kompetensi mereka. Refleksi diri ditekankan oleh Bandura dapat menghasilkan pola pikir yang Nature – Sifat manusia ini berasal dari faktor genetik yang dapat mempengaruhi potensi perilaku. Karena itu tindakan manusia merupakan kombinasi antara kemampuan kognitif yang telah dipelajari dengan faktor psiko-fisiologis yang dibawa sejak lahir. Ketahui juga mengenai pembahasan perkembangan kognitif pada masa dewasa akhir, pembentukan konsep dalam psikologi kognitif dan aplikasi psikologi kognitif dalam kehidupan sehari – Orientasi Kognitif dalam KomunikasiAsumsi yang ada pada orientasi kognitif dalam psikologi komunikasi adalah bahwa satu proses belajar akan terjadi jika seorang mengamati model yang menampilkan perilaku tertentu dan mendapatkan imbalan atau hukuman sebagai hasil dari perilaku tersebut. Pengamatan ini akan mengembangkan harapan mengenai apa yang akan terjadi jika ia melakukan perilaku tersebut. Beberapa kesulitan dalam berkomunikasi merefleksikan suatu rentang potensi perubahan kognitif seperti berikutKesulitan memusatkan perhatian dan fokusMasalah pada bidang ini bisa mengarah kepada kesulitan berkomunikasi seperti berikut ini contohnya tidak bisa berkonsentrasi pada program televisi yang biasanya dapat dinikmati sehingga mulai mengajak berbicara dan mengacaukan fokus orang lain yang juga sedang menikmati program tersebut. Mungkin juga terjadi kesulitan berfokus kepada percakapan sehingga sering mengakhiri percakapan secara tiba – tiba atau menghindarinya sekaligus. Gagal menaruh perhatian yang berakibat ketinggalan informasi penting sehingga menyebabkan mereka mengatakan hal yang tidak layak dan memalukan, dan mengalami kesulitan membagi perhatian diantara dua aktivitas atau ingatanSeseorang dengan masalah memori mungkin akan menemukan kesulitan untuk mengakses informasi yang mereka ketahui. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan seperti mengingat kata – kata dan mengingat nama orang, yang sangat penting untuk berkomunikasi secara sosial. Kegagalan untuk mengingat nama, wajah, atau informasi yang relevan dalam suatu percakapan bisa menyebabkan malu dan akibatnya akan menghindari situasi literalKerusakan di bagian kanan otak mungkin akan menyebabkan kemampuan interpretasi verbal seseorang menjadi sangat konkret dan memahami hal – hal secara harfiah. Mereka mungkin akan mengalami kekurangan untuk menangkap makna humor dan sarkasme dan melewatkan makna tersirat dalam percakapan. Masalah ini bisa menghasilkan seseorang menerima pesan dengan cara yang salah. Ia juga bisa salah mengerti ekspresi umum yang digunakan orang – logika dan kemampuan memecahkan masalahPerubahan dalam kemampuan pemecahan masalah bisa menghasilkan sesuatu masalah ketika seseorang tidak dapat menggunakan bahasa untuk berpikir secara menyeluruh dan memecahkan masalah. Ini bisa menyebabkan mereka menggunakan penilaian yang salah dan keputusan yang salah juga. Ketidak mampuan menalar dan tidak mampu memecahkan masalah juga bisa mengakibatka orang mengalami kesulitan dalam gaya percakapan mereka, dengan gagal memahami sudut pandang logis orang lain dan menjadi tidak fleksibel dalam pendapatnya kognitifIstilah ini adalah istilah jangka panjang yang umum digunakan dalam psikologi kognitif sebagai konsekuensi dari cedera otak. Jika seseorang kelelahan, maka ia seringkali tidak dapat mengelola kognitifnya dengan baik terutama dalam berkomunikasi. Berkurangnya perhatian dan konsentrasi, mereka akan kurang mampu berpikir jernih dan bisa menjadi mudah tersinggung serta agresif. Kelelahan kognitif juga bisa menimbulkan masalah komunikasi lain seperti aphasia, dysarthia dan dyspraxia of memproses informasiOrientasi kognitif dalam psikologi komunikasi berupa kelambatan memproses komunikasi adalah konsekuensi umum dari cedera otak dan bisa berarti bahwa seseorang tidak dapat mengikuti percakapan yang berkembang dengan cepat. seringkali ia akan berkomentar bahwa ia mengalami kesulitan ketika sedang sibuk atau ketika berbicara dengan lebih dari satu kemampuan komunikasi sosialKesulitan dalam komunikasi sosial khususnya dihubungkan dengan cedera lobus frontal otak. Kesulitan di area ini bisa berarti seseorang tidak dapat mengenali petunjuk sosial sehari – hari baik itu verbal maupun non verbal. Ada rentang luas mengenai norma – norma yang dapat diterima dalam budaya apapun, dan cedera otak mungkin dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengenali dan menerapkan norma – norma ini secara wawasanSeseorang mungkin kekurangan atau memiliki wawasan terbatar terhadap semua masalah komunikasi. Mereka mungkin masih mempercayai bahwa mereka masih bersikap normal tepat seperti apa yang pernah dilakukan sebelumnya. Ini bisa menyulitkan bagi orang lain yang berinteraksi dengan mereka. Jika seseorang kekurangan wawasan, maka akan sangat sulit untuk mengubah perilaku yang bermasalah karena akan sulit mengatasi masalah yang tidak diketahui keberadaannya.
orientasi kognitif meliputi berbagai hal berikut ini kecuali